"seiring banyaknya kejahatan begal dijalanan"
Kami dari sanggar
hikma samudra megajak semua saudara saudaraku.....khusus muslim dan
muslimah ...biaya mahar ikhlas 350.000 .....kami beri keilmuan kuncup
melati balya bin malkan 100% tidak mengandung jin dan syirik penuh doa
doa mustajabah yang ringkas dan pendek ...... insya ALLAH penjagaan
mutlak dari bangsa malaikat ardun........keilmuan kami buat dalam
paket .....1.mandi ruwatan titik 17 cupu tubuh 2.rajahan nama yang dicampur dalam minyak khosois..3.kapsul qulhu derga agung 3 butir. cara pesan : (..ketik nama lengkap beserta tgl lahir dan nama orang tua alamat
lengkap dan no hp yang bisa dihubungi... di kolom komen)
mohon disebarkan bagi teman teman yang membutuhkan ...
mari berlindung dan berdoa kepada ALLAH SWT kalau manusia tak mampu
lagi melindungi kepada ALLAH lah kita minta pertolongan.......
Mari.....saudara ..saudariku untuk keselamatan mutlak kita ....dari kejahatan manusia berhati binatang .....dan iblis.......
mahar hanya Rp.50.000 bukan menjual ilmu .....hanya sebagai tali asih dan rasa ......
manfaat jangan diragukan lagi.....
BISMILLAH .......INIAKBARRU WAMINNALLAHI BI BARAKATI AULIA ALLAH...........no hp sanggar hikma samudra 081283157326
....asbabnya....
Kabar Berita
"seiring banyaknya kejahatan begal dijalanan"
Kami dari sanggar hikma samudra megajak semua saudara
saudaraku.....khusus muslim dan muslimah ...biaya mahar ikhlas 50.000
.....kami beri keilmuan kuncup melati balya bin malkan 100% tidak
mengandung jin dan syirik penuh doa doa mustajabah yang ringkas dan
pendek ...... insya ALLAH penjagaan mutlak dari bangsa malaikat
ardun........keilmuan kami buat dalam 50 paket .....batas waktu dimulai
tgl 08/09/2106 sampai 14/09/2016 jam 12.00 wib malam ...
cara pesan :
(harus inbox ke fb saja no coment ......ketik nama lengkap beserta tgl
lahir dan nama orang tua alamat lengkap dan no hp yang bisa
dihubungi...)
mohon disebarkan bagi teman teman yang membutuhkan ...
mari berlindung dan berdoa kepada ALLAH SWT kalau manusia tak mampu
lagi melindungi kepada ALLAH lah kita minta pertolongan.......
Mari.....saudara ..saudariku untuk keselamatan mutlak kita ....dari kejahatan manusia berhati binatang .....dan iblis.......
mahar hanya Rp.50.000 bukan menjual ilmu .....hanya sebagai tali asih dan rasa ......
manfaat jangan diragukan lagi.....
BISMILLAH .......INIAKBARRU WAMINNALLAHI BI BARAKATI AULIA ALLAH...........
catatan sosok balya bin malkan alias NABI KHIDIR
KISAH NABI KHIDIR AS
Salah satu kisah Al-Qur'an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan
misteri adalah, kisah seseorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat
dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Kisah tersebut terdapat dalam surah
al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau
aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun." (QS. al-Kahfi: 60)
Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk
meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau
mampu mencapai majma' al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Di sana
terdapat suatu perjanjian penting yang dinanti-nanti oleh Musa ketika
beliau sampai di majma' al-Bahrain. Anda dapat merenungkan betapa tempat
itu sangat misterius dan samar. Para musafir telah merasakan keletihan
dalam waktu yang lama untuk mengetahui hakikat tempat ini. Ada yang
mengatakan bahwa tempat itu adalah laut Persia dan Romawi. Ada yang
mengatakan lagi bahwa itu adalah laut Jordania atau Kulzum. Ada yang
mengatakan juga bahwa itu berada di Thanjah. Ada yang berpendapat, itu
terletak di Afrika. Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah laut
Andalus. Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari
tempat-tempat itu.
Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya
Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur'an al-Karim sengaja
menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur'an tidak menyebutkan kapan
itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur'an tidak menyebutkan nama-nama
orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang
tinggi yang kita tidak mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan
suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai
berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan
dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu.
Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang
samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang
dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal.
Di samping itu,
tempat pertemuan dan waktunya antara hamba yang mulia ini dan Musa juga
tidak kita ketahui. Demikianlah kisah itu terjadi tanpa memberitahumu
kapan terjadi dan di tempat mana. Al-Qur'an sengaja menyembunyikan hal
itu, bahkan Al-Qur'an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini.
Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
"Seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya
rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari
sisi Kami." (QS. al-Kahfi: 65)
Al-Qur'an al-Karim tidak
menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang
dicari oleh Musa agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah
seseorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah
seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat
tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat
diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini,
beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar
kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu.
Lalu, siapakah gurunya atau pengajarnya? Pengajarnya adalah seorang
hamba yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur'an meskipun dalam hadis
yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as.
Musa berjalan
bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab
penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak
ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu
bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan
syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir
sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol
ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan
kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang
dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata
Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang
tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa
bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang
tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya
dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan
karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.
Ilmu Musa yang berlandaskan
syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang
berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang
hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit
memahaminya. Awan tebal yang menyelimuti kisah ini dalam Al-Qur'an telah
menurunkan hujan lebat yang darinya mazhab-mazhab sufi di dalam Islam
menjadi segar dan tumbuh. Bahkan terdapat keyakinan yang menyatakan
adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun
para nabi dan para syuhada "cemburu" dengan ilmu mereka. Keyakinan
demikian ini timbul karena pengaruh kisah ini.
Para ulama berbeda
pendapat berkenaan dengan Khidir. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia
seorang wali dari wali-wali Allah SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia
seorang nabi. Terdapat banyak cerita bohong tentang kehidupan Khidir
dan bagaimana keadaannya. Ada yang mengatakan bahwa ia akan hidup sampai
hari kiamat. Yang jelas, kisah Khidir tidak dapat dijabarkan melalui
nas-nas atau hadis-hadis yang dapat dipegang (otentik). Tetapi kami
sendiri berpendapat bahwa beliau meninggal sebagaimana meninggalnya
hamba-hamba Allah SWT yang lain. Sekarang, kita tinggal membahas
kewaliannya dan kenabiannya. Tentu termasuk problem yang sangat rumit
atau membingungkan. Kami akan menyampaikan kisahnya dari awal
sebagaimana yang dikemukakan dalam Al-Qur'an.
Nabi Musa as
berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk
menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran.
Pembicaraan Nabi Musa sangat komprehensif dan tepat. Setelah beliau
menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: "Apakah
ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?"
Dengan nada emosi, Musa menjawab: "Tidak ada."
Allah SWT tidak
setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk
bertanya kepadanya: "Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana
Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?" Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru
mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya:
"Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma'
al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu." Jiwa Nabi Musa yang mulia
rindu untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya untuk
pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa bertanya bagaimana ia dapat
menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan
membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan
maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim.
Akhirnya, Musa pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh seorang
pembantunya yang masih muda. Pemuda itu membawa ikan di keranjang.
Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim dan saleh.
Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar dan masalah ini
berkaitan dengan hidupnya ikan di keranjang dan kemudian ikan itu akan
melompat ke laut. Namun Musa berkeinginan kuat untuk menemukan hamba
yang alim ini walaupun beliau harus berjalan sangat jauh dan menempuh
waktu yang lama.
Musa berkata kepada pembantunya: "Aku tidak
memberimu tugas apa pun kecuali engkau memberitahuku di mana ikan itu
akan berpisah denganmu." Pemuda atau pembantunya berkata: "Sungguh
engkau hanya memberi aku tugas yang tidak terlalu berat." Kedua orang
itu sampai di suatu batu di sisi laut. Musa tidak kuat lagi menahan rasa
kantuk sedangkan pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi
lautan sehingga ikan itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut.
Melompatnya ikan itu ke laut sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT
kepada Musa tentang tempat pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana
yang mana Musa datang untuk belajar kepadanya. Musa bangkit dari
tidurnya dan tidak mengetahui bahwa ikan yang dibawanya telah melompat
ke laut sedangkan pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang
terjadi. Lalu Musa bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka
lupa terhadap ikan yang dibawanya. Kemudian Musa ingat pada makanannya
dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: "Coba
bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan
keletihan akibat dari perjalanan ini."
Pembantunya mulai ingat
tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat
ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta
maaf kepada Nabi Musa karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah
melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas
ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu
cara yang mengagumkan. Nabi Musa merasa gembira melihat ikan itu hidup
kembali di lautan dan ia berkata: "Demikianlah yang kita inginkan."
Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat
itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa
dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke
tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.
Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu
kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir
di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus
berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa sampai di tempat
di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana
keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju
laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak
mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami
pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam
yang dijelaskan oleh Al-Qur'an: "Lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya
rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari
sisi Kami. "
Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu
terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada
hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu,
maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil
jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah
Musa kepada muridnya: 'Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita
merasa letih karena perjalanan hita ini.' Muridnya menjawab: 'Tahukah
kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka
sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah
yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu
mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata:
'Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak
mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara
hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi
Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. " (QS.
al-Kahfi: 61-65)
Bukhari mengatakan bahwa Musa dan pembantunya
menemukan Khidir di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika
Musa melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir berkata:
"Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu?" Musa menjawab: "Aku adalah
Musa." Khidir berkata: "Bukankah engkau Musa dari Bani Israil. Bagimu
salam wahai Nabi dari Bani Israil." Musa berkata: "Dari mana kamu
mengenal saya?" Khidir menjawab: "Sesungguhnya yang mengenalkan kamu
kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang
engkau inginkan wahai Musa?" Musa berkata dengan penuh kelembutan dan
kesopanan: "Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku
sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya." Khidir berkata:
"Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan
wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak
akan mampu bersabar bersamaku."
Kita ingin memperhatikan sejenak
perbedaan antara pertanyaan Musa yang penuh dengan kesopanan dan
kelembutan dan jawaban Khidir yang tegas di mana ia memberitahu Musa
bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa
tidak diketahui oleh Khidir. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir
berkata kepada Musa: "Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak
akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu.
Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan
ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam
tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena
itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin
mendapatkan ilmuku." Musa mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari
Khidir namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya
menyertainya untuk belajar darinya. Musa berkata kepadanya bahwa insya
Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan
menentang sedikit pun.
Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi
yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia
menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya. Hamba Allah SWT
yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur'an menyatakan bahwa di sana
terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa jika ia bersikeras ingin
menyertainya dan belajar darinya. Musa bertanya tentang syarat ini, lalu
hamba yang saleh ini menentukan agar Musa tidak bertanya sesuatu pun
sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh
itu akan memberitahunya. Musa sepakat atas syarat tersebut dan kemudian
mereka pun pergi. Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:
"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu ?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas
sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal
itu?' Musa berkata: 'Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang
yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.'
Dia berkata: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan
kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya
kepadamu.'" (QS. al-Kahfi: 66-70)
Musa pergi bersama Khidir.
Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar
lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau
mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir. Lalu mereka pun
membawanya beserta Musa, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini
sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir. Namun Musa dibuat terkejut
ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir
melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu,
lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke
tempat yang jauh.
Musa menyertai Khidir dan melihat tindakannya
dan kemudian ia berpikir. Musa berkata kepada dirinya sendiri: "Apa yang
aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani
laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan
membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para
pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun
memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan
melobanginya." Tindakan Khidir di mata Musa adalah tindakan yang
tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa sebagai bentuk kecemburuannya
kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada gurunya dan ia lupa
tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun
yang terjadi. Musa berkata: "Apakah engkau melobanginya agar para
penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang
tercela." Mendengar pertanyaan lugas Musa, hamba Allah SWT itu menoleh
kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa untuk belajar darinya menjadi
sia-sia karena Musa tidak mampu lagi bersabar. Musa meminta maaf kepada
Khidir karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan
tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah
letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan
rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika
melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa dengan lantang
bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu
membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali
mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa
meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa berjanji tidak
akan bertanya lagi. Musa berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk
menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan. Mereka memasuki
suatu desa yang sangat bakhil. Musa tidak mengetahui mengapa mereka
berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana.
Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada
penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau
menjamu mereka.
Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu
ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa dibuat
terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris
roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding
itu dan membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan
gurunya. Bagi Musa, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk
mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa berkata: "Seandainya engkau
mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu." Mendengar
perkataan Musa itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: "Ini adalah
batas perpisahan antara dirimu dan diriku." Hamba Allah SWT itu
mengingatkan Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan
dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari
pertemuan.
Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa
dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa. Setiap
tindakan hamba yang saleh itu—yang membuat Musa bingung—bukanlah hasil
dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar
menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tingi di mana
kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi.
Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada
hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah
bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang
tidak diketahui oleh Musa. Meskipun Musa memiliki ilmu yang sangat luas
tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa laksana
setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah
SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang
terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan. Allah SWT
berfirman:
"Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya
menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: 'Mengapa kamu
melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya?
Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.' Dia
(Khidir) berkata: 'Bukankah aku telah berkata: 'Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.' Musa berkata:
'Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu
membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah
keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka
Khidir membunuhnya. Musa berkata: 'Mengapa kamu membunuh jiwa yang
bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu
telah melakukan suatu yang mungkar.' Khidir berkata: 'Bukankah sudah
kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?'
Musa berkata: 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah
(kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu,
sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.' Maka keduanya
berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri,
mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri
itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri
itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding
itu. Musa berkata: 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk
itu.' Khidir berkata: 'Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku
akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak
dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang
miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu,
karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap
bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang
mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu
kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha
mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari
anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan
bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota
itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang
ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka
sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai
rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku
sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak
dapat sabar terhadapnya.'" (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu
menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni
ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari
musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang
besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu
mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik
itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui
kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan
untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan
perahu-perahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki
keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati
kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan
menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun
kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah
SWT akan memberi mereka—sebagai ganti darinya—anak yang baik yang dapat
menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua
dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak
yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu
bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak
hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan.
Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan
hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba
Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat
Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang
terjadi.
Selanjutnya, Musa kembali menemui pembatunya dan
menemaninya untuk kembali ke Bani Israil. Sekarang, Musa mendapatkan
keyakinan yang luar biasa. Musa telah belajar dari mereka dua hal: yaitu
ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana
terdapat ilmu hakikat, dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang
dialami oleh manusia karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang
tersembunyi yang berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Itulah
pelajaran yang diperoleh Nabi Musa as dari hamba ini. Nabi Musa
mengetahui bahwa ia berhadapan dengan lautan ilmu yang baru di mana ia
bukanlah lautan syariat yang diminum oleh para nabi. Kita berhadapan
dengan lautan hakikat, di hadapan ilmu takdir yang tertinggi; ilmu yang
tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai manusia biasa atau
dapat kita cerna dengan logika biasa. Ini bukanlah ilmu eksperimental
yang kita ketahui atau yang biasa terjadi di atas bumi, dan ia pun bukan
ilmu para nabi yang Allah SWT wahyukan kepada mereka.
Kita
sekarang sedang membahas ilmu yang baru. Lalu siapakah pemilik ilmu ini?
Apakah ia seorang wali atau seorang nabi? Mayoritas kaum sufi
berpendapat bahwa hamba Allah SWT ini dari wali-wali Allah SWT. Allah
SWT telah memberinya sebagian ilmu laduni kepadanya tanpa sebab-sebab
tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hamba saleh ini adalah
seorang nabi. Untuk mendukung pernyataannya ulama-ulama tersebut
menyampaikan beberapa argumentasi melalui ayat Al-Qur'an yang
menunjukkan kenabiannya.
Pertama, firman-Nya:
"Lalu mereka
bertemu dengan searang hamba di antara hamba-ham-ba Kami, yang telah
Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami
ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."
Kedua, perkataan Musa kepadanya:
"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas
sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal
itu ?' Musa berkata: 'lnsya Allah kamu akan mendapati aku sebagai
orangyang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan
pun.' Dia berkata: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu
rmnanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri
menerangkannya kepadamu,'" (QS. al-Kahfi: 66-70)
Seandainya ia
seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak akan berdiaog atau
berbicara dengannya dengan cara yang demikian dan ia tidak akan menjawab
kepada Musa dengan jawaban yang demikian. Bila ia bukan seorang nabi
maka berarti ia tidak maksum sehingga Musa tidak harus memperoleh ilmu
dari seseorang wali yang tidak maksum.
Ketiga, Khidir menunjukkan
keberaniannya untuk membunuh anak kecil itu melalui wahyu dari Allah
SWT dan perintah dari-Nya. Ini adalah dalil tersendiri yang menunjukkan
kenabiannya dan bukti kuat yang menunjukkan kemaksumannya. Sebab,
seorang wali tidak boleh membunuh jiwa yang tidak berdosa dengan hanya
berdasarkan kepada keyakinannya dan hatinya. Boleh jadi apa yang
terlintas dalam hatinya tidak selalu maksum karena terkadang ia membuat
kesalahan. Jadi, keberanian Khidir untuk membunuh anak kacil itu sebagai
bukti kenabiannya.
Keempat, perkataan Khidir kepada Musa:
"Sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. " (QS. al-Kahfi: 82)
Yakni, apa yang aku lakukan bukan dari doronganku sendiri namun ia
merupakan perintah dari Allah SWT dan wahyu dari-Nya. Demikianlah
pendapat para ulama dan para ahli zuhud. Para ulama berpendapat bahwa
Khidir adalah seorang Nabi sedangkan para ahli zuhud dan para tokoh sufi
berpendapat bahwa Khidir adalah seorang wali dari wali-wali Allah SWT.
Salah satu pernyataan Kliidir yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi
adalah perkataan Wahab bin Munabeh, Khidir berkata: "Wahai Musa, manusia
akan disiksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau
kecenderungan mereka terhadapnya (dunia)." Sedangkan Bisyir bin Harits
al-Hafi berkata: "Musa berkata kepada Khidir: "Berilah aku nasihat."
Khidir menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kamu untuk taat
kepada-Nya." Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang
Khidir dan setiap mereka mengklaim kebenaran pendapatnya. Perbedaan
pendapat ini berujung pangkal kepada anggapan para ulama bahwa mereka
adalah sebagai pewaris para nabi, sedangkan kaum sufi menganggap diri
mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari
ahli hakikat itu adalah Khidir. Kami sendiri cenderung untuk menganggap
Khidir sebagai seorang nabi karena beliau menerima ilmu laduni. Yang
jelas, kita tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Qur'an yang
menunjukkan kenabiannya dan kita juga tidak menemukan nas yang gamblang
yang dapat kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang
wali yang diberi oleh Allah SWT sebagian ilmu laduni.
Barangkali
kesamaran seputar pribadi yang mulia ini memang disengaja agar orang
yang mengikuti kisah tersebut mendapatkan tujuan utama dari inti cerita.
Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh
mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya. Yang jelas, ketika kami
memasukkannya dalam jajaran para nabi karena ia adalah seorang guru dari
Musa dan seorang ustadz baginya untuk beberapa waktu